Recent Posts

"Jakarta Membunuh Lukas Enembe, Pelan-Pelan?

Jumat, 20 Januari 2023



Lamadi de Lamato*)

Saya sengaja memilih judul tulisan di atas, yg terlihat keras karena, saya merasa muak, benci & jengkel dgn perlakuan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang sangat semena2 & tdk berperikemanusiaan dlm memperlalukan seorang tokoh Papua, dlm kasus gratifikasi 1milyar padanya..


Sdh seminggu lebih, sang tokoh di kriminalisasi dgn sgt buruk tanpa mempertimbangkan sakit yg ia derita..Bermula ditangkap disebuah rumah makan di Jayapura, lalu buru2 diterbangkan keluar Papua dgn pesawat Trigana Air, kemudian tangannya diborgol kendati ia sdg tdk berdaya di kursi roda..


Tdk sampai disitu, sang tokoh juga dilecehkan dgn rasis, lalu akses utk keluarga bertemu sang tokoh ditutup rapat2..Benar2 menyedihkan..Tdk ingin diam, keluarga Lukas Enembe, medesak Komnas HAM (Hak Asasi Manusia) utk turun tangan melihat kasus Lukas Enembe, yg sdh sgt buruk diperlakukan negara melalui KPK bbrp minggu ini.


Sbg org yg pernah dekat dgn Lukas Enembe, langkah yg diambil keluarga melaporkan KPK ke Komnas HAM sgt tepat & rasional..Pasalnya perlakuan yg diterima Lukas Enembe, yg sgt buruk tsb dpt memicu kemarahan kolektif warga Papua, yg selama ini punya memori passionis yg buruk, terhadap negara dlm berbagai kasus yg ditanganinya.


Gratifikasi Penuh Rekayasa

Kebijakan Jakarta yg buruk, telah membuat Papua dlm NKRI yg penuh rekayasa, tak kunjung selesai. Tokoh Papua banyak yg mati & dijebloskan ke penjara, sdh tdk terhitung..Yg paling fenomenal, Theys Hiyo Eluay, tokoh pejuang kemerdekaan di eksekusi mati dgn sgt telanjang & sadis oleh negara, lantaran tokoh ini disebut berseberangan dgn NKRI.


Jap Sallosa, Gubernur Papua, yg juga aktor lahirnya Otsus, juga meninggal misterius krn diduga berseberangan dgn Jakarta..Kematian tokoh2 penting Papua ini, sesungguhnya ada yg lebih besar dan utama dari persoalan Papua yg sgt kompleks.


Media nasional *Tempo* menyebut kematian tokoh2 Papua diatas termasuk *Membunuh Lukas Enembe Pelan-Pelan* dgn tuduhan gratifikasi 1 milyar, memang bagian di skenario dlm memuluskan kepentingan Jakarta, yg ingin menghegemoni Papua dlm semua dimensi kebijakan.


Saya ingin tertawa, saat tokoh populis Papua, Lukas Enembe, tiba2 di tersangkakan KPK dengan alat bukti transfer 1 milyar ke rekeningnya. Tahukah?


Selama berbulan2 Lukas Enembe di framing media dgn berbagai pencitraan buruk. Menghabiskan uang di kasino, memiliki harta kekayaan yg fantastis, berkongsi dgn OPM dll.. Semua framing itu dibangun krn gratifikasi 1 milyar terlalu remeh temeh utk menjebloskan seorang Gubernur yg memimpin dua periode..Negara sontoloyo!!


Pemimpin Berhati Mulia

Suatu ketika, Gubernur Lukas Enembe, yg msh sehat bertemu seseorang di istana..Di saat di depan pintu, ia berpapasan dgn seorang abdi dalem istana..Saya pikir, hanya di kraton ada abdi dalem. Di istana pun ada abdi dalem. Ia membukuk tanda menghormat.


Tugasnya merapikan perabot istana & pelayan para elit di dlm. Kebiasaan Gubernur Lukas yg ringan tangan, tiba2 ia merogok kantong celananya, lalu ia memberi uang segepok kpd sang abdi yg ia tdk kenal tsb. Spontan, tindakan Gubernur itu, membuat seorang bapak2 yg bertugas di istana itu kaget, menangis & tdk nyangka mendapat rejeki sebesar itu.


Sehari2 ia hanya menyaksikan para elit negara, yg ia layani tp utk rejeki sebesar itu, tdk pernah ia temukan..Rasa kemanusiaan Lukas Enembe pd org2 sekitarnya, tetangga & kerabatnya selalu ia perlakukan dgn baik.


Cerita dibalik Gubernur Lukas Enembe yg berhati mulia, sgt dikenal oleh banyak kalangan..Ia tdk segan2 berbagi, menolong & memberi, baik kenal & tdk kenal spt contoh diatas.


Lukas Enembe tumbuh dari budaya Noken, Big Man & kasih menembus perbedaan, telah mengantarnya sbg pemimpin yg meletakan persaudaraan, persamaan & cinta antar sesama, yg memiliki hati & sikap yg mulia sbg sosok kharismatik di Papua.


Sayang bbrp minggu ini ketika ditahan krn gratifikasi oleh KPK , ia diperlakukan dgn sgt tdk manusiawi. Dan, sadar atau tdk, itu akan menjadi pemantik kemarahan rakyat Papua atas apa, yg diperbuat Jakarta pada dirinya, termasuk pada tokoh2 Papua sebelumnya.



Penulis adalah Presiden Warga Imigran Pendatang se-Tanah Papua