Recent Posts

4 Operasi Militer yang Pernah dilakukan Kopassus dalam Sejarah Indonesia

Rabu, 11 Januari 2023

JAKARTA
 - Kopassus dikenal telah melakukan cukup banyak operasi militer yang sangat berbahaya. Untuk diketahui, Komando Pasukan Khusus atau Kopassus merupakan salah satu pasukan elite yang dimiliki TNI Angkatan Darat (AD).

Melihat dari sejarahnya, Korps Baret Merah sudah banyak menorehkan prestasi dan keberhasilan misi yang dijalankannya. Sebagai contoh, saat masih bernama RPKAD, kala itu pasukan ini berhasil menumpas Gerakan 30 September PKI.
Selain itu, masih banyak jejak keberhasilan Kopassus yang jarang diketahui karena sifat misinya yang memang rahasia. Berikut empat operasi militer yang pernah dilakukan Kopassus dalam sejarah Indonesia.

1. Operasi Mapenduma
Dalam riwayatnya, Kopassus pernah beberapa kali mencatatkan keberhasilan dalam misinya di Papua. Salah satu diantaranya adalah misi bertajuk Operasi Mapenduma.

Adapun tujuan dari operasi militer ini untuk membebaskan sandera Ekspedisi Lorentz 95 yang sempat ditahan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Kelly Kwalik di Desa Mapenduma, Kecamatan Tiom, Jayawijaya.

Kala itu, misi pembebasan ini dipimpin Danjen Kopassus Brigjen TNI Prabowo Subianto. Dikutip dari pemberitaan sebelumnya, pada 9 Mei 1996 beberapa anggota satuan elite Kopassus menyerang sarang OPM yang berada di Desa Geselama.

Operasi ini pada akhirnya mengakhiri drama penyanderaan selama 130 hari. Sekitar 9 sandera berhasil dibebaskan serta ada dua yang ditemukan meninggal. Mereka adalah Matheis Yosias Lasembu dan Navy W Th Panekenan.

2. Operasi Woyla

Pada tahun 1981, Kopassus pernah melakukan operasi pembebasan sebuah pesawat maskapai Garuda Indonesia berjenis Douglas DC-9 yang dibajak sekelompok teroris di Bandar Udara Don Mueang, Bangkok, Thailand.

Kisah bermula saat Pesawat Garuda DC-9 Woyla rute penerbangan Jakarta-Medan dibajak saat transit di Palembang. Pembajak tersebut diketahui ada lima orang dan menyebut dirinya Komando Jihad.

Karena kehabisan bahan bakar, mereka mengisinya di Bandara Penang, Malaysia sebelum akhirnya mendarat di Don Meuang, Bangkok. Kelompok pembajak mengirim tuntutan berupa pembebasan anggota Komando Jihad yang ditahan serta sejumlah uang.

Dalam upaya pembebasan sandera, pada 29 Maret 1981 dibentuk tim pembebasan yang dipimpin Letkol Inf Sintong Pandjaitan. Operasi pembebasan pun berhasil dan para sandera bisa segera terbebaskan.

Namun, dalam operasi ini pilot Herman Rante dan satu personel bernama Achmad Kirang harus gugur.